Alasan saya memutuskan
untuk mendaftar di Universitas Gadjah Mada dan Ilmu Komunikasi khususnya, ialah
karena saya sudah jenuh. Jenuh dengan kehidupan di Jakarta. Jenuh dengan hiruk
pikuknya, jenuh dengan gedung-gedung tingginya, jenuh dengan orang-orangnya,
jenuh dengan lingkungan yang saya tinggali, jenuh dengan transportasinya, dan
juga dengan pergaulannya. Syukur diucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa saya lolos
dan dapat meninggalkan Jakarta.
Selain karena jenuh, saya memilih Ilmu
Komunikasi di Universitas Gadjah Mada juga karena saya ingin menjadi jurnalis.
Saya pun baru mengetahui kalau di Ilmu Komunikasi nanti dibagi menjadi dua
konsentrasi, konsentrasi strategis dan media. Tentunya karena saya ingin
menjadi jurnalis, saya mengambil konsentrasi media dan jurnalisme.
Di bidang jurnalisme nantinya pun saya
ingin mengkhususkan di bidang musik. Saya ingin menjadi musik jurnalis. Saya
ingin lebih dekat dengan grup musik yang saya idolakan. Saya ingin mengenal dan
mengalami dunia musik indie khususnya, lebih dalam lagi. Karena itu saya
putuskan untuk menjadikan musik jurnalis pekerjaan idaman dan pekerjaan yang
ingin saya geluti.
Pekerjaan menjadi musik jurnalis
terdengar fantastis! Mengapa begitu? Karena dengan menjadi musik jurnalis, saya
berfikir saya dapat bertemu dengan banyak grup musik, mewawancarai mereka,
mereview konser mereka, pergi ke belakang panggung setelah atau sebelum konser
dimulai, dan menonton konser mereka tanpa harus bayar. Semua itu terdengar
sangat menggiurkan bagi saya, seorang penggila musik.
Kalau di Indonesia, saya ingin bekerja
di majalah musik seperti Rolling Stones. Atau majalah umum dan saya bekerja di
bagian musik juga tidak mengapa. Mulai dari mereview dan datang ke konser grup
musik lokal sampai ke grup musik internasional. Selain bekerja di majalah
musik, saya juga ingin menjadi penyiar radio dan memutar lagu-lagu indie
berkualitas yang dapat didengar oleh banyak orang. Dan bagaimana menjadi
jurnalis dan penyiar yang baik saya pelajari semua di Ilmu Komunikasi.
Namun saya tidak ingin berlama-lama menjadi
musik jurnalis di majalah biasa. Saya ingin menjadi musik jurnalis di majalah
NME. Majalah NME merupakan majalah musik di Inggris yang sudah berdiri dari
tahun 1952 dan semakin berkembang besar hingga sekarang. Majalah NME selain
meliput seputar grup musik indie, juga mengadakan festival musik indie tiap
tahunnya.
Selain berkecimpung di majalah NME, saya
juga ingin bekerja di BBC Radio 1. Tidak begitu jauh bidangnya dari majalah
NME, karena BBC Radio 1 merupakan radio di Inggris yang memutar lagu-lagu
indie. BBC Radio 1 juga tiap tahunnya mengadakan festival musik seperti majalah
NME. Dan sering kali mengundang grup musik indie untuk datang dan memainkan
beberapa buah lagu dalam acara BBC Radio 1 Live Lounge.
Terlepas dari cita-cita saya yang baru
saja saya ungkapkan diatas, saya memutuskan untuk mengambil program studi Ilmu
Komunikasi dikarenakan saya sudah tidak ingin lagi menghitung dengan rumus yang
rumit, juga tidak ingin memikirkan tentang polemik politik ataupun sosial yang
terjadi di dunia maupun Indonesia khususnya.
Ilmu Komunikasi terdengar bagai sebuah
ilmu yang fleksibel. Ilmu yang mencakup bidang yang luas. Ilmu yang tidak kaku.
Dan saya melihat itu semua cocok dengan karakter dan kepribadian saya. Sungguh
bersyukur saya dapat diterima di Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada.
Sungguh senang juga di hati dan masih tidak menyangka saya bisa lolos diterima
menjadi mahasiswa di jurusan yang saya idamkan, Ilmu Komunikasi di universitas
yang saya kagumi, Universitas Gadjah Mada.