Selasa, 19 November 2013

Review Konser Musik: Sigur Ros

Sigur Ros merupakan band asal Islandia yang awalnya terdiri dari empat personil. Jonsi, Georg, Orri dan Kjartan. Namun Kjartan keluar karena suatu alasan dan tinggallah mereka bertiga melanjutkan karir band yang dibentuk pada tahun 1994 ini.

Pada hari Jumat tanggal 10 May 2013 kemarin, Sigur Ros datang ke Indonesia, Jakarta pada khususnya, untuk menyelenggarakan konser pertama mereka disini. Dipromotori oleh Flux and Play, harga tiket sejumlah Rp. 850.000,00 untuk kelas festival dan Rp. 700.000,00 untuk kelas tribun habis terjual. Walau pada awalnya banyak dari penggemar Sigur Ros yang mengeluhkan akan harga tiket yang terlalu mahal, namun demi menyaksikan langsung trio magis dari Islandia ini mereka tetap membeli tiket tersebut.

Konser yang diselenggarakan di Istora Senayan, Jakarta ini dimulai pukul 07.00 malam. Tetapi mulai pukul 04.00 sore sudah banyak yang datang dan mengantri di depan pintu masuk agar dapat berdiri di barisan terdepan tepat di depan panggung. Namun pintu masuk baru dibuka pada sekitar pukul 08.00 malam. Dan 
konser itu sendiri baru dimulai sekitar pukul 09.00 malam.

Dari balik kain putih besar yang menutupi panggung itu terlihat bayangan Jonsi dan kawan-kawan. Bersamaan dengan permainan visual, cahaya dan efek pada kain putih yang menutupi panggung tersebut terdengarlah lantunan intro lagu Yfirbord. Semua penonton langsung bertepuk tangan dan berteriak senang 
karena pertunjukan konser musik Sigur Ros yang terkenal spektakuler itu akhirnya dimulai.

Saat Sigur Ros memainkan awalan lagu Hoppipolla, semua orang dalam Istora Senayan langsung bersorak bahagia. Tidak peduli dengan bahasa yang sangat asing ditelinga orang Indonesia itu, para penonton ikut bernyanyi bersama Jonsi saat membawakan lagu Hoppipola.

Efek visual yang berbeda di tiap lagu juga menambah kekhusyukan penonton konser Sigur Ros malam itu. Penonton tidak hanya menikmati lantunan musik dari lagu-lagu Sigur Ros, tetapi penonton juga disajikan pertunjukan yang memanjakan mata. Seakan penonton dibawa ke alam dan dunia yang berbeda. Di tiap lagu yang dibawakan oleh Sigur Ros malam itu diputar juga video-video yang mendukung yang dapat dilihat dari layar. Selain itu saat membawakan Olsen Olsen, berjajar lampu-lampu bohlam berpendaran di atas panggung menambah keajaiban pertunjukan.

Sigur Ros menyelipkan beberapa lagu baru yang ada di album barunya, Kveikur, dalam konser malam itu. Penonton yang belum mengetahui lagu tersebut pun tetap ikut larut dalam kemegahan aksi panggung yang disajikan oleh Sigur Ros. Alat-alat musik yang tidak biasa dijumpai di grup musik lain menambah kekaguman yang hadir. Dengan total lima belas lagu yang dibawakan, Sigur Ros membungkukkan badan tanda terima kasih untuk semua yang datang dan tanda bahwa pertunjukan musik malam itu telah berakhir.

Konser perdana Sigur Ros di Indonesia membuktikan bahwa musik merupakan suatu hal yang universal. Musik adalah hal yang dapat dinikmati oleh semua orang. Musik juga dapat menyatukan semua orang. Tidak peduli bahasa apa yang digunakan.

Review Film: Tanah Surga Katanya


Film Tanah Surga Katanya yang disutradarai oleh Herwin Novianto menceritakan tentang seorang anak bernama Salman yang tinggal bersama adik perempuannya, Salina dan juga kakeknya, Hasyim, yang memiliki rasa nasionalisme tinggi, di suatu daerah perbatasan dan pedalaman di pulau Kalimantan atau biasa disebut pulau Borneo. Salman dan adiknya ditinggal bapaknya, Haris, kerja di Malaysia. Hingga pada suatu ketika Salman dan Salina diajak sang bapak yang sudah sukses di Malaysia untuk ikut tinggal bersama disana dan meninggalkan rumah dan kehidupan sederhananya di Indonesia.

Namun rasa nasionalisme yang sudah tertanam kuat dalam diri sang kakek, yang dulunya merupakan prajurit perang saat Indonesia dan Malaysia berseteru, membuatnya enggan bahkan menolak keras untuk meninggalkan tanah air tercinta. Dengan kondisi sang kakek yang sudah tua renta dan sakit, Salman tidak tega untuk meninggalkan kakeknya sendiri dan memilih untuk tidak ikut adik dan bapaknya hidup di negeri orang.

Kenyataan bahwa sakit kakeknya parah dan harus dibawa ke rumah sakit, walau untuk transportasi dan obat memakan biaya yang tidak sedikit, seakan memaksa Salman untuk bekerja di sebuah pasar di Malaysia. Disana dia melihat bahwa betapa tidak dihargainya bangsa dan negara Indonesia bahkan bendera 
merah putih Indonesia yang suci pun hanya dinilai sebagai kain yang tidak ada maknanya.

Disela-sela waktunya untuk bekerja mencari uang demi menyembuhkan sakit yang diderita kakeknya, Salman yang masih duduk di bangku kelas empat Sekolah Dasar sederhana di dusunnya, tetap pergi ke sekolah untuk mencari ilmu. Sekolah Dasar tersebut hanya memiliki satu orang guru perempuan yang bernama Astuti. Astuti mengajar anak-anak kelas tiga dan kelas empat sekaligus di dalam suatu ruangan yang hanya terpisahkan oleh papan seadanya. Salman dan teman-teman memiliki pengetahuan minim akan Indonesia. Mereka tidak mengetahui bendera Indonesia juga lagu kebangsaan Indonesia. Maklum saja, mereka tinggal di pedalaman dan tinggal di daerah perbatasan antara Indonesia dan Malaysia (Serawak). Mata uang yang digunakan sehari-harinya pun mata uang dari Malaysia, yaitu Ringgit.

Sampai pada suatu ketika datanglah seorang dokter sukarelawan bernama Anwar. Anwar membantu mengobati penyakit yang diderita warga dusun dan juga membantu mengajar Salman dan teman-teman di sekolah. Dokter Anwar juga membantu membawa kakek berobat ke rumah sakit terdekat. Akan tetapi sungguh disayangkan kakek sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sebelum sampai ke tujuan.

Film ini kental akan unsur nasionalisme yang sudah ditonjolkan dari awal cerita. Watak si kakek, yang merupakan veteran perang, sangat mewakilkan unsur nasionalisme tersebut. Watak itu yang lalu diturunkan ke cucunya, Salman. Pesan dalam film, yaitu berupa cintailah tanah air Indonesia hingga akhir hayat, sesungguhnya tersampaikan oleh para penonton film Tanah Surga Katanya ini. Akan tetapi eksekusi atau penyajian dari pesan tersebut tidak dilakukan dengan cakap.

Pertama, pesan untuk menanamkan dengan kuat rasa nasionalisme dalam diri, terkesan terlalu memaksa. Film ini juga dapat memicu rasa benci terhadap Malaysia, yang mana seharusnya antar warga negara tidak boleh timbul rasa benci atau dendam. Rasa toleransi dan saling menghargai antar warga negara yang justru seharusnya ditanamkan, tidak disampaikan dalam film ini.

Ada beberapa adegan dalam film Tanah Surga Katanya yang justru mengurangi esensi dari film itu. Adegan-adegan itu merupakan adegan lelucon yang menurut saya tidak lucu sama sekali. Kalaupun tujuan dari sang sutradara untuk menyeimbangkan adegan-adegan serius dengan adegan guyonan, saya pribadi menilainya tidak berhasil dilakukan dengan baik. Adegan lelucon yang disajikan seakan terlalu dibuat-buat.
Selain hal tersebut, Ringgo Agus Rahman yang terkenal dengan aksen juga karakter yang jenaka, tidak cocok untuk memerankan karakter dr. Anwar. Ence Bagus yang terkenal sebagai pelawak juga terasa agak janggal untuk memerankan karakter bapak yang serius.

Dari segi sinematografi, film Tanah Surga Katanya kurang memperlihatkan pemandangan-pemandangan indah dan sumber daya alam yang dimiliki daerah tersebut. Yang diperlihatkan hanya daerah dusun yang ditinggali Salman dan penduduk lainnya merupakan daerah pedalaman terpencil yang tidak dihiraukan oleh pemerintah Indonesia. Kalau memang sutradara ingin mengkritik dan menyadarkan pemerintah untuk lebih memerhatikan daerah-daerah pedalaman di Indonesia, alangkah lebih baik memperlihatkan kelebihan yang dimiliki daerah pedalaman tersebut, dibanding hanya memperlihatkan kekurangannya.

Bisa dibandingkan dengan film Laskar Pelangi. Film Laskar Pelangi memang tidak terlalu menekankan akan nilai nasionalisme. Walau demikian, film tersebut menyajikan betapa kaya sumber daya alam Belitong yang disia-siakan pemerintah. Dengan memperlihatkan hal tersebut, dibalut dengan cerita anak-anak yang juga bersekolah di sekolah yang sudah tidak layak lagi, orang-orang yang menonton Laskar Pelangi secara otomatis tertanam rasa nasionalis dalam diri masing-masing orang. Mereka juga jadi tahu akan kehidupan 
masyarakat di daerah pedalaman dan tertinggal.

Secara keseluruhan, menurut saya film ini biasa saja. Sesungguhnya nasionalisme itu ada di tiap diri warga negara tersebut tanpa harus menyulutnya secara berlebihan bahkan menyebarkan rasa benci terhadap negara tetangga.

Selasa, 22 Oktober 2013

Menggugat Pers dan Negara


11 Februari lalu, Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia atau biasa disingkat PWI, Bung Margiono, mempersoalkan mengenai independensi pers indonesia. Ia mempertanyakan siapa yang dapat menjamin kenetralan dari media yang dimiliki oleh petinggi-petinggi partai politik di Indonesia yang ada di tengah masyarakat sekarang ini. Seperti Surya Paloh dengan Media Group, Chairul Tanjung dengan Trans Corp, Harry Tanoe dengan MNC Groupnya juga Dahlan Iskan dengan Jawa Pos Group yang dimilikinya. Selain Bung Margiono, Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring, juga mempersoalkan hal yang sama. Menteri Komunikasi dan Informatika ini juga mempersoalkan independensi media dan campur tangan pemilik media tersebut. Bahkan Presiden Replubik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, sudah meminta kepada para pemilik media dan juga pemilik manajemen media agar memberi ruang yang cukup dan relatif adil bagi semua peserta pemilihan umum yang akan diadakan di tahun 2014 mendatang. Hal ini agar diciptakannya sebuah kenetralan dari tiap calon.
Namun yang terjadi di negara Indonesia adalah, masih terkonsentrasinya, elitis dan seragamnya kepemilikan media di Indonesia. Media elite seperti surat kabar dan majalah saja belum dapat memenuhi standard minimal yang diberikan UNESCO, yaitu 1:10 antara surat kabar dan penduduk. Selain hal tersebut, program dan isi yang disuguhkan oleh stasiun televisi swasta lebih mengorientaskan kepada penduduk kota atau penduduk urban. Karena sifatnya yang seragam dan elitis. Hal demikian terjadi karena stasiun televisi yang ada hanya mengejar dan mencari rating dari penonton. Walau begitu, Indonesia masih memiliki media yang demokratis. Media yang demokratis ini adalah radio. Radio dengan jangkauannya yang luas juga kepemilikan dan isi yang beragam, jumlahnya ada sekitar 1000 lebih.

Hal yang telah disebut diatas ini yang memprihatinkan. Seharusnya pemerintah atau lembaga yang mengurusi tentang pers di Indonesia lebih tegas dan netral dalam mengatasi masalah yang ada. Kenyataannya, Dewan Pers, lembaga yang bertugas menjaga kemerdekaan pers, belum dapat bekerja dan bertugas secara maksimal. Komisi Penyiaran Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika dan Bapepam-LK, yang bertugas sebagai regulator utama diharapkan dapat bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum di tahun politik, 2014, mendatang. Ini diharapkan agar tidak adanya media yang dimiliki oleh calon dari partai politik manapun, yang mendominasi.

Selasa, 08 Oktober 2013

Perbatasan #bridgingcourse



Di tanggal 11 juni 1995, saya dilahirkan di sebuah rumah sakit di daerah Tangerang Selatan. Tangerang Selatan merupakan sebuah kota yang berada diantara Jakarta Selatan dan Tangerang itu sendiri. Saya tumbuh besar, tinggal dan menghabiskan sebagian hidup saya di daerah Tangerang Selatan. Mulai dari saya duduk di bangku sekolah dasar, lalu saat saya melanjutkan di bangku sekolah menengah pertama atau biasa disingkat menjadi SMP, sampai dengan disaat saya duduk di bangku sekolah menengah atas. Walau memang saya menghabiskan dia belas tahun masa belajar saya di sekolah-sekolah di daerah Jakarta, yaitu Jakarta Selatan khususnya, akan tetapi saya selalu datang dari daerah Tangerang Selatan dan kembali pulang ke daerah Tangerang Selatan pula.

Kota Tangerang Selatan sendiri ialah sebuah kota di antara DKI Jakarta bagian selatan, dengan kota Tangerang itu sendiri. Kota Tangerang Selatan memang tidak terlalu besar dan luas seperti kota Jakarta, akan tetapi kota Tangerang Selatan merupakan sebuah kota yang memiliki atau mempunyai komplek perumahan yang cukup banyak. Tidak sulit untuk menjumpai komplek perumahan dengan arsitektur gaya masa kini di kota Tangerang Selatan. Mulai dari harga yang cukup murah hingga yang sangat mahal. Kota Tangerang Selatan memiliki jumlah komplek perumahan yang banyak dikarenakan hampir seluruh penduduk dan penghuni kota Tangerang Selatan ialah seorang commuter, atau seseorang yang bekerja di kota Jakarta namun tinggal di kota Tangerang Selatan.

Banyaknya masyarakat atau penduduk yang memiliki rumah di salah satu perumahan di suatu daerah di kota Tangerang Selatan bisa jadi dikarenakan harga yang ditawarkan di kota Tangerang Selatan ini tidak semahal dengan harga yang ditawarkan di kota Jakarta, dimana kebanyakan penduduk kota Tangerang Selatan mengadu nasib diri mereka dan juga keluarganya masing-masing. Selain dikarenakan Hal yang telah disebutkan sebelumnya itu, banyaknya masyarakat yang menghuni kota Tangerang Selatan juga bisa dikarenakan lokasinya yang dekat dengan kota Jakarta. Namun ini merupakan suatu nilai minus untuk kota Tangerang Selatan. Kota Tangerang Selatan yang memiliki penduduk yang hampir seluruhnya merupakan penduduk yang bekerja di kota Jakarta, dan mengharuskan mereka untuk bepergian antar kota antar provinsi tiap harinya, membuat kota Tangerang Selatan selalu macet di tiap jam dan hari.

Untuk menuju ke kota Jakarta, bisa dibandingkan dengan kota Tangerang yang mengharuskan penduduknya melewati jalan bebas hambatan atau jalan tol untuk menuju kota Jakarta. Penduduk atau masyarakat yang tinggal di kota Tangerang Selatan dapat menggunakan kendaraan umum biasa yang tidak mengharuskan melewati dan menggunakan jalan tol untuk menuju kota Jakarta. Tentunya ini mengakibatkan pada pengeluaran untuk akomodasi yang jadi jauh lebih murah dibandingkan dengan penduduk kota Tangerang yang ingin atau hendak menuju kota Jakarta. Di daerah rumah yang saya tinggali dengan keluarga saya pun lokasinya tidak begitu jauh dengan batas kota Jakarta. Jadi dibandingkan dengan kota Tabgerang, untuk menuju ke kota Jakarta dari kota Tangerang Selatan lebih menghemat waktu dan juga menghemat uang.

Dengan segala yang dimiliki kota Tangerang Selatan, perasaan rindu ingin kembali dan merasakan apa yang dahulu selalu saya rasakan tiap hari, mulai dari perasaan senang sampai benci, pastinya ada. Tidak bisa dipungkiri, kota Tangerang Selatan, kota dimana saya hanya menumpang tidur dan buang air, tidak akan bisa saya hilangkan dari dalam pikiran dan hati.

Senin, 23 September 2013

Mengapa Komunikasi?

Alasan saya memutuskan untuk mendaftar di Universitas Gadjah Mada dan Ilmu Komunikasi khususnya, ialah karena saya sudah jenuh. Jenuh dengan kehidupan di Jakarta. Jenuh dengan hiruk pikuknya, jenuh dengan gedung-gedung tingginya, jenuh dengan orang-orangnya, jenuh dengan lingkungan yang saya tinggali, jenuh dengan transportasinya, dan juga dengan pergaulannya. Syukur diucapkan pada Tuhan Yang Maha Esa saya lolos dan dapat meninggalkan Jakarta.

Selain karena jenuh, saya memilih Ilmu Komunikasi di Universitas Gadjah Mada juga karena saya ingin menjadi jurnalis. Saya pun baru mengetahui kalau di Ilmu Komunikasi nanti dibagi menjadi dua konsentrasi, konsentrasi strategis dan media. Tentunya karena saya ingin menjadi jurnalis, saya mengambil konsentrasi media dan jurnalisme.

Di bidang jurnalisme nantinya pun saya ingin mengkhususkan di bidang musik. Saya ingin menjadi musik jurnalis. Saya ingin lebih dekat dengan grup musik yang saya idolakan. Saya ingin mengenal dan mengalami dunia musik indie khususnya, lebih dalam lagi. Karena itu saya putuskan untuk menjadikan musik jurnalis pekerjaan idaman dan pekerjaan yang ingin saya geluti.

Pekerjaan menjadi musik jurnalis terdengar fantastis! Mengapa begitu? Karena dengan menjadi musik jurnalis, saya berfikir saya dapat bertemu dengan banyak grup musik, mewawancarai mereka, mereview konser mereka, pergi ke belakang panggung setelah atau sebelum konser dimulai, dan menonton konser mereka tanpa harus bayar. Semua itu terdengar sangat menggiurkan bagi saya, seorang penggila musik.

Kalau di Indonesia, saya ingin bekerja di majalah musik seperti Rolling Stones. Atau majalah umum dan saya bekerja di bagian musik juga tidak mengapa. Mulai dari mereview dan datang ke konser grup musik lokal sampai ke grup musik internasional. Selain bekerja di majalah musik, saya juga ingin menjadi penyiar radio dan memutar lagu-lagu indie berkualitas yang dapat didengar oleh banyak orang. Dan bagaimana menjadi jurnalis dan penyiar yang baik saya pelajari semua di Ilmu Komunikasi.

Namun saya tidak ingin berlama-lama menjadi musik jurnalis di majalah biasa. Saya ingin menjadi musik jurnalis di majalah NME. Majalah NME merupakan majalah musik di Inggris yang sudah berdiri dari tahun 1952 dan semakin berkembang besar hingga sekarang. Majalah NME selain meliput seputar grup musik indie, juga mengadakan festival musik indie tiap tahunnya.

Selain berkecimpung di majalah NME, saya juga ingin bekerja di BBC Radio 1. Tidak begitu jauh bidangnya dari majalah NME, karena BBC Radio 1 merupakan radio di Inggris yang memutar lagu-lagu indie. BBC Radio 1 juga tiap tahunnya mengadakan festival musik seperti majalah NME. Dan sering kali mengundang grup musik indie untuk datang dan memainkan beberapa buah lagu dalam acara BBC Radio 1 Live Lounge.

Terlepas dari cita-cita saya yang baru saja saya ungkapkan diatas, saya memutuskan untuk mengambil program studi Ilmu Komunikasi dikarenakan saya sudah tidak ingin lagi menghitung dengan rumus yang rumit, juga tidak ingin memikirkan tentang polemik politik ataupun sosial yang terjadi di dunia maupun Indonesia khususnya.


Ilmu Komunikasi terdengar bagai sebuah ilmu yang fleksibel. Ilmu yang mencakup bidang yang luas. Ilmu yang tidak kaku. Dan saya melihat itu semua cocok dengan karakter dan kepribadian saya. Sungguh bersyukur saya dapat diterima di Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada. Sungguh senang juga di hati dan masih tidak menyangka saya bisa lolos diterima menjadi mahasiswa di jurusan yang saya idamkan, Ilmu Komunikasi di universitas yang saya kagumi, Universitas Gadjah Mada.